• sekretariat@walhiriau.or.id
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah
  • id ID
    • en EN
    • id ID
No Result
View All Result
WALHI Riau
No Result
View All Result
Home News & Updates

Angin berlalu, Musim Berubah, Presiden Berganti: Tolak PSN Rempang Eco City Tetap Harga Mati

WALHIRiau25 by WALHIRiau25
October 21, 2024
in News & Updates, Siaran Pers
0
0
SHARES
17
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Siaran Pers
ALIANSI MASYARAKAT REMPANG GALANG BERSATU

Related Posts

Hari Lingkungan Hidup 2026: Selamatkan Ruang Hidup, Wujudkan Keadilan Ekologis

Nelayan Menang: KKP Terbitkan SK Kawasan Konservasi Perairan Rupat Utara

Sambut Hari Lingkungan Hidup, Orang Muda Riau Kampanyekan Keadilan Iklim dan Lingkungan

Hari Anti Tambang 2026: Riau dan Kepulauan Riau Darurat Ekstraktivisme Dari Batu Bara, Emas hingga Pasir Laut, Ruang Hidup Rakyat Terus Terancam

Pekanbaru, 21 OKTOBER 2024- Masyarakat dari kampung-kampung di Pulau Rempang berkumpul, mereka menyeru kepada Presiden Indonesia yang baru saja dilantik pada Minggu (20/10/2024) hari ini, Prabowo Subianto. Seruan itu dibacakan oleh Koordinator Umum Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB), Ishak di salah satu sudut Kampung Sembulang Hulu, Kelurahan Sembulang, Kecamatan Galang sekira pukul 14.30 WIB.

Ada empat poin yang masyarakat Rempang serukan pada Presiden Prabowo Subianto. Pertama, meminta Presiden melindungi seluruh masyarakat adat dan tempatan di Pulau Rempang; kedua, Mencabut dan membatalkan penetapan Pulau Rempang sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN) Rempang Eco City; ketiga, menghentikan upaya penggusuran terhadap warga Pulau Rempang; dan keempat, memberikan perlindungan atas hak-hak konstitusional masyarakat Pulau Rempang berupa legalitas tanah yang telah mereka kelola selama ini.

“Kami warga Rempang yang juga bagian dari Warga Indonesia sedang terancam kehilangan ruang hidup kami disebabkan keberadaan dan proses Proyek Strategis Nasional Rempang Eco City,” Ucap Ishak ketika membacakan salah satu penggal seruan ini.

Empat poin tersebut, nantinya akan masuk dalam rupa “Surat Terbuka untuk Presiden” yang akan masyarakat Rempang sampaikan kepada Presiden Prabowo Subianto, melalui Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu.

Saat pembacaan poin demi poin yang ada di surat terbuka itu, Warga Pulau Rempang memegang baliho berukuran besar. Berisi tulisan “Tolak PSN Rempang Eco City”. Kemudian mereka lanjutkan dengan orasi bersama, menyatakan sikap bahwa buat mereka menolak PSN Rempang Eco City adalah harga mati. Orasi bersama ini beberapa kali mereka lakukan.

Koordinator Kampung Sembulah Hulu, Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu, Muhammad Aris, mengatakan surat terbuka ini secepatnya akan mereka kirimkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Ia berharap pesan inti berupa penolakan masyarakat Pulau Rempang atas PSN Rempang Eco City bisa didengar oleh Presiden Prabowo Subianto.

“Harapan kami kepada presiden terpilih, mudah-mudahan apa yang menjadi keluhan kami masyarakat Rempang didengar. Kami mau hidup damai. Kami mau PSN Rempang Eco City dicabut, kami ingin legalitas, ingin kepastian hukum kami di sini,” kata Aris saat ditemui seusai kegiatan ini.

Perjuangan masyarakat Pulau Rempang mempertahankan ruang hidup mereka, kata Aris, akan terus berlanjut. Sampai akhirnya Presiden mencabut PSN Rempang Eco City ini.

Warga Pulau Rempang, lanjutnya, sudah lebih dari setahun hidup dalam kebimbangan dan intimidasi. Pendapatan masyarakat menurun drastis karena tidak lagi fokus saat melaut dan berkebun. Mereka harus berbagi peran, antara mencari makan untuk menghidupi keluarga dan menjaga kampung dari ancaman penggusuran.

Meskipun demikian, Masyarakat Pulau Rempang tetap bertahan. Demi tetap eksisnya kampung yang menjadi identitas mereka saat ini. Mereka menjaga jejak leluruh dan budaya yang tumbuh dan tersimpan di kampung-kampung mereka di Pulau Rempang ini.

“Sejak isu Rempang Eco City ini, ekonomi masyarakat semakin sulit, tak seperti sebelum isu ini berkembang. Kalau Rempang Eco City jadi, kami mungkin akan semakin lebih sulit lagi,” tutupnya.

Next Post

Mengawal Putusan MA atas Gugatan PT TUM: Masyarakat Pulau Mendol Mengirimkan Amicus Curriae kepada MA

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel lain

Siaran Pers

Hari Lingkungan Hidup 2026: Selamatkan Ruang Hidup, Wujudkan Keadilan Ekologis

by WALHI Riau
June 18, 2026
0

Siaran PersWahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Jakarta, 5 Juni 2026 – Pada peringatan Hari Lingkungan Hidup 2026, WALHI mengajak publik untuk...

Read more

Hari Lingkungan Hidup 2026: Selamatkan Ruang Hidup, Wujudkan Keadilan Ekologis

Nelayan Menang: KKP Terbitkan SK Kawasan Konservasi Perairan Rupat Utara

Sambut Hari Lingkungan Hidup, Orang Muda Riau Kampanyekan Keadilan Iklim dan Lingkungan

Hari Anti Tambang 2026: Riau dan Kepulauan Riau Darurat Ekstraktivisme Dari Batu Bara, Emas hingga Pasir Laut, Ruang Hidup Rakyat Terus Terancam

WALHI Region Sumatera Deklarasikan Aliansi Daulat Sumatera (Andalas) untuk Agenda Menyelamatkan Ruang Hidup dan Penghidupan Bentang Alam Sumatera

Our Power, Our Riau: Mewujudkan Transisi Energi Berkeadilan, Tuntut Hak Rakyat dan Planet Melalui Aksi Mural Kolektif Hari Bumi

Load More

[]


Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) RIau “Mewujudkan Riau Adil dan Lestari Berlandaskan Nilai Keadilan Ekologis”

© WALHI Riau 2025

  • Home
  • Isu Kita
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah

© 2025 WALHI Riau