• sekretariat@walhiriau.or.id
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah
  • id ID
    • en EN
    • id ID
No Result
View All Result
WALHI Riau
No Result
View All Result
Home News & Updates

WALHI Riau Tagih Komitmen Perlindungan Negara Terhadap Pembela HAM di Hari Perlindungan Pembela HAM

WALHIRiau25 by WALHIRiau25
September 8, 2022
in News & Updates, Siaran Pers
0
0
SHARES
11
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Siaran Pers
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)
Riau

Related Posts

Ancam Ruang Hidup, Warga Riau dan Kepri Desak Pemerintah Cabut Izin Tambang Serta PSN

Rupat Utara Jadi Kawasan Konservasi, WALHI Riau Perkuat Perlindungan Sumber Penghidupan Nelayan

Asap Beracun Rampas Hak Hidup Warga Riau: Penegakan Hukum Korporasi dan Perlindungan Kelompok Rentan Masih Lambat

BPGMN: Dejavu Badan Gambut dan Mangrove, Mampukah Menyentuh Akar Persoalan?

Pekanbaru, 8 September 2022— Tanggal 7 September ditetapkan sebagai Hari Perlindungan Pembela HAM oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia. Tanggal ini bertepatan dengan hari meninggalnya Munir Said Thalib dalam perjalanan menuju Amsterdam. Ia meninggal dua jam sebelum mendarat di tujuan. Berpulangnya Munir secara janggal meninggalkan misteri. Dalang pembunuhannya gagal diungkap hingga saat ini. Guna mengenang perjuangan Munir sebagai pembela HAM, 7 September tanggal berpulang Munir ditetapkan sebagai Hari Perlindungan Pembela HAM. Hari tersebut juga menjadi simbol mengingatkan negara, bukan saja kasus Munir yang belum terungkap, tapi banyak peristiwa pelanggaran HAM lain dan insiden keamanan yang mengancam perjuangan para Pembela HAM di Indonesia.

“WALHI Riau mencatat kekerasan terhadap Pembela HAM hingga saat ini masih terus terjadi. Kekerasan fisik hingga digital mewarnai perjuangan para Pembela HAM. Bahkan adanya norma perlindungan terhadap Pembela HAM yang masuk dalam kategori pejuang lingkungan hidup sebagaimana disebut Pasal 66 Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (PPLH) belum mampu diterapkan secara maksimal dalam praktiknya. Negara belum menerbitkan aturan dan pedoman dalam pelaksanaan ketentuan ini,” sebut Fandi Rahman Manajer Akselerasi Wilayah Kelola Rakyat WALHI Riau.

Eko Yunanda, Manajer Pengorganisasian dan Keadilan Iklim WALHI Riau menyinggung persoalan pemenuhan HAM dalam konteks keadilan iklim. Hal ini dapat dilihat dari beberapa praktik baik yang dirusak oleh kebijakan negara yang melegalisasi aktivitas industri ekstraktif.

“Masyarakat yang melindungi tanah dan sumber kehidupannya sangat rentan terhadap pelanggaran HAM. Di satu sisi, mereka yang berpraktik baik dalam pengelolaan lingkungan hidup merasakan dampak buruk dari perubahan iklim. Praktik buruk yang melepaskan dan memproduksi emisi karbon, mengakibatkan masyarakat pesisir menghadapi dampak naiknya permukaan air laut dan lainnya. Di sisi lainnya, praktik baik masyarakat digerus oleh legalitas penerbitan izin industri ekstraktif. Mereka kehilangan daulat dan legalitas atas sumber penghidupannya. Bahkan, tidak jarang digusur atas nama pembangunan. Contohnya, nelayan Rupat yang menjaga laut harus diganggu kehidupannya oleh keberadaan izin tambang,” sebut Eko.

WALHI Riau melihat persoalan pelanggaran dan perlindungan terhadap pembela HAM merupakan hal yang krusial. Negara harus didesak untuk memposisikan dirinya berpihak pada kepentingan rakyat dan lingkungan hidup.

“Momentum peringatan Hari Perlindungan Pembela HAM jangan  diposisikan sekedar momentum peringatan hari berpulangnya Munir. Tokoh ini akan jauh lebih senang apabila hari ini dijadikan momentum bagi negara untuk memperlihatkan keseriusannya dalam merumuskan berbagai produk hukum yang menegaskan perlindungan kepada Pembela HAM. Dan sekaligus memastikan rakyat mendapatkan haknya atas lingkungan hidup yang baik dan sehat. Tidak boleh ada lagi penggusuran dan kekerasan yang dihadapi petani dan kelompok marjinal lain atas nama pembangunan dan pertumbuhan ekonomi,” tutup Fandi.

Narahubung:
Fandi Rahman (085271603790)

Tags: #2022#hariperlindunganpembelaHAM#keadilanekologiswalhi riau
Next Post

Diskusi Publik: Mitigasi Konflik Harimau vs Manusia dengan Pendekatan Kebijakan FoLU Net Sink 2030

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel lain

Energi Bersih Terbarukan

Ancam Ruang Hidup, Warga Riau dan Kepri Desak Pemerintah Cabut Izin Tambang Serta PSN

by WALHI Riau
October 20, 2026
0

Siaran PersWahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau Jakarta, 20 Oktober 2026 – Perwakilan masyarakat Riau dan Kepulauan Riau secara resmi...

Read more

Ancam Ruang Hidup, Warga Riau dan Kepri Desak Pemerintah Cabut Izin Tambang Serta PSN

Rupat Utara Jadi Kawasan Konservasi, WALHI Riau Perkuat Perlindungan Sumber Penghidupan Nelayan

Asap Beracun Rampas Hak Hidup Warga Riau: Penegakan Hukum Korporasi dan Perlindungan Kelompok Rentan Masih Lambat

BPGMN: Dejavu Badan Gambut dan Mangrove, Mampukah Menyentuh Akar Persoalan?

Tambang PT BPP Semakin Masif, Masyarakat Batu Ampar dan Selensen Desak Pemulihan Lingkungan dan Tata Kelola Berpihak pada Rakyat

Hentikan Kriminalisasi Pejuang Hak Tanah Ulayat Rempang Atas Nama Pembangunan Ambisius Sekolah Terintegrasi Merah Putih Oleh Bp Batam

Load More

[]


Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) RIau “Mewujudkan Riau Adil dan Lestari Berlandaskan Nilai Keadilan Ekologis”

© WALHI Riau 2025

  • Home
  • Isu Kita
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah

© 2025 WALHI Riau