• sekretariat@walhiriau.or.id
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah
  • id ID
    • en EN
    • id ID
No Result
View All Result
WALHI Riau
No Result
View All Result
Home Siaran Pers

MASYARAKAT ADAT BERSAMA WALHI AJUKAN UJI MATERI PERDA PROVINSI RIAU 10/2015

WALHIRiau25 by WALHIRiau25
February 21, 2018
in Siaran Pers
0
0
SHARES
5
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

BERTENTANGAN DENGAN BANYAK UNDANG-UNDANG, MASYARAKAT ADAT BERSAMA WALHI AJUKAN UJI MATERI PERDA PROVINSI RIAU 10/2015 KE MAHKAMAH AGUNG

Related Posts

Sumatera Darurat Ekologi: Bencana yang Dirancang Negara

Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan: Industri Ekstraktif Memperdalam Kerentanan dan Kekerasan terhadap Perempuan

Roots Up Aksi Respon COP 30: Bersama Pulihkan Riau!

Jatah Preman Memperpanjang Riwayat Korupsi Gubernur Riau, Berimbas Buruknya Tata Kelola Perizinan SDA

Selasa, 20 Februari 2018 – Aditia Bagus Santoso yang merupakan kuasa hukum Himyul Wahyudi, Supriadi dan Darwin selaku masyarakat adat Kabupaten Kampar dan Kabupaten Indragiri Hulu bersama Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengajukan permohonan uji materil ke Mahkamah Agung terhadap Peraturan Daerah Provinsi Riau Nomor 10 Tahun 2015 tentang Tanah Ulayat dan Pemanfaatannya sebab bertentangan dengan berbagai undang-undang yang lebih tinggi.

Aditia mengatakan bahwa peraturan daerah merupakan produk hukum yang dalam pembentukan harus patuh terhadap asas-asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang tertuang dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. “Setelah kita melakukan kajian panjang terhadap perda ini, terlihat bahwa terdapat pengabaian asas pembentukan peraturan perundang-undangan khususnya asas kejelasan” ujar Adit. Direktur LBH Pekanbaru ini memaparkan ketidakjelasan tersebut turut mengakibatkan pertentangan dengan undang-undang lainnya “Frasa bahan tambang berat yang terdapat dalam perda ini sesungguhnya tidak dikenal dalam undang-undang manapun dan tidak terdapat penjelasannya dalam perda itu sendiri” imbuhnya.

Himyul Wahyudi yang merupakan masyarakat adat Kenegerian Batu Sanggan Kabupaten Kampar mengatakan bahwa implementasi perda ini akan berdampak buruk dan meniadakan penghargaan kepada hak masyarakat adat terkait tanah ulayatnya. “Uji materil ini menjadi penting sebab melalui Perda ini kami selaku masyarakata adat melihat ketidakberpihakan pemerintah provinsi terhadap masyarakat kami dan haknya yang melekat pada kami, masyarakat adat” ujar pria yang akrab di sapa Yudi ini.

Devi Indriani, staff WALHI Riau yang turut mendampingi kuasa hukum masyarakat adat mengajukan permohonan ke Mahkamah Agung juga memaparkan keganjilan dalam perda tersebut “Ketentuan pidana yang terdapat dalam perda ini, membuka potensi terjadinya kriminalisasi. Terlebih jika melihat rujukan pemidanaan dalam Pasal 16, tidak jelas siapa dan karena apa bisa di pidana” tambahnya.

Direktur Eksekutif Daerah WALHI Riau menjelaskan bahwa perda ini mengancam sumber daya alam yang dimiliki oleh masyarakat adat. “Tidak hanya bertentangan dengan undang-undang yang lebih tinggi, dalam perda ini juga terdapat banyak pertentangan dan ketidakjelasan antar pasalnya. Bahkan jika perda ini dijadikan acuan, maka hak masyarakat adat terkait sumber daya alamnya akan rentan terhadap eksploitasi sumber daya alamnya dengan dalih implementasi frasa kepentingan umum, kepentingan daerah dan kepentingan nasional yang tidak memiliki definisi yang jelas dalam perdanya sendiri” ujar Riko. Direktur WALHI Riau juga melihat bahwa sesungguhnya pemanfaatan tanah ulayat memiliki sumbangsih yang besar terhadap keberlangsungan hidup masyarakat adat itu sendiri. “Selain itu, apa yang dilakukan oleh banyak masyarakat adat sejak dulu dan hingga sekarang memiliki nilai kearifan lokal dan nilai keseimbangan ekologis tersendiri serta pemanfaatan hak masyarakat adat tidak seperti eksploitasi skala besar yang dilakukan oleh banyak korporasi di Riau, dan parahnya, itu di legalkan!” tutupnya. Ia juga berharap uji materil yang telah di ajukan ini dapat menjadi preseden yang baik bagi pemerintah dalam hal mengeluarkan regulasi yang berpihak dan melindungi masyarakat serta masyarakat adat.

*****

Narahubung

Riko Kurniawan 081371302269

Aditia Bagus Santoso 081277741836

Devi Indriani 082285356253

Tags: #masyarakatadat #keadilanekologis #tolakregulasikotor
Next Post

PEMULIHAN GAMBUT STAGNAN, WALHI MINTA EVALUASI KINERJA BRG

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel lain

Siaran Pers

Sumatera Darurat Ekologi: Bencana yang Dirancang Negara

by WALHI Riau
December 3, 2025
0

Siaran PersWahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau Pekanbaru, 3 Desember 2025 — Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh,...

Read more

Sumatera Darurat Ekologi: Bencana yang Dirancang Negara

Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan: Industri Ekstraktif Memperdalam Kerentanan dan Kekerasan terhadap Perempuan

Roots Up Aksi Respon COP 30: Bersama Pulihkan Riau!

Jatah Preman Memperpanjang Riwayat Korupsi Gubernur Riau, Berimbas Buruknya Tata Kelola Perizinan SDA

Hari Sumpah Pemuda, WALHI Riau Serukan Tuntutan Keadilan Iklim dan Antargenerasi 

Industri Ekstraktif: Merusak Lingkungan Hidup dan Merampas Hak Rakyat 

Load More

[]


Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) RIau “Mewujudkan Riau Adil dan Lestari Berlandaskan Nilai Keadilan Ekologis”

© WALHI Riau 2025

  • Home
  • Isu Kita
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah

© 2025 WALHI Riau