• sekretariat@walhiriau.or.id
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah
  • id ID
    • en EN
    • id ID
No Result
View All Result
WALHI Riau
No Result
View All Result
Home Hutan dan Kebun

Tunjuk Ajar Lingkungan Hidup 2025 Peringati Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Menggaungkan Isu Krisis Ekologis Melalui Film dan Seminar Publik

WALHIRiau25 by WALHIRiau25
July 9, 2025
in Hutan dan Kebun, Isu Kita, Keadilan Iklim, Siaran Pers, Utama
0
0
SHARES
66
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Siaran Pers Bersama

Related Posts

Sumatera Darurat Ekologi: Bencana yang Dirancang Negara

Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan: Industri Ekstraktif Memperdalam Kerentanan dan Kekerasan terhadap Perempuan

Roots Up Aksi Respon COP 30: Bersama Pulihkan Riau!

Jatah Preman Memperpanjang Riwayat Korupsi Gubernur Riau, Berimbas Buruknya Tata Kelola Perizinan SDA

Pekanbaru, 24 Juni 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang jatuh setiap tanggal 5 Juni, WALHI Riau bersama Paradigma, Lembaga Pers Mahasiswa Bahana UNRI dan Aklamasi, serta kelompok mahasiswa pecinta alam seperti Humendala, Suluh, WANAPALHI USTI, dan Himpunan Mahasiswa Pendidikan Masyarakat UNRI menggelar acara bertajuk Tunjuk Ajar Lingkungan Hidup di Aula Kampar, Gedung Integrated Classroom, Universitas Riau pada Kamis, 19 Juni 2025.

Acara ini mengusung dua agenda utama yakni, peluncuran dan penayangan perdana film dokumenter Ada Noda di Bajumu! yang diproduksi WALHI Riau, serta seminar publik bertema Ekologi Politik: Isu Transisi Energi di Indonesia.

Acara dibuka secara resmi dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya yang diikuti secara khidmat oleh seluruh peserta dan panitia. Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Pelaksana, Imam Yoemi Aziz, yang menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam menjaga lingkungan hidup. “Kita harus terus mengampanyekan pentingnya pelestarian lingkungan agar tidak mewariskan bumi dalam kondisi rusak,” ujarnya.

Direktur WALHI Riau, Even Sembiring, dalam sambutannya menekankan prinsip keadilan ekologis sebagai landasan perjuangan organisasi. “Dalam konteks ber-WALHI, kami percaya akan tuntutan keadilan yang diberi nama dengan keadilan ekologis yang di dalamnya terkandung pengakuan atas tiga subjek utama dalam kosmologi kehidupan yakni, manusia, lingkungan—termasuk spesies flora dan fauna—serta komponen habitatnya,” jelasnya.

Acara kemudian dibuka secara resmi oleh Dr. Eddy Noviana, S.Pd., M.PE., Koordinator Program Studi Pendidikan Masyarakat Universitas Riau, yang berharap kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bagi mahasiswa untuk menerapkan kearifan lokal dalam menjaga lingkungan. “Kita perlu belajar dari nilai-nilai tunjuk ajar Melayu sebagai fondasi etika lingkungan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Setelah Penandatanganan dokumen implement agreement antara FKIP UNRI oleh Dr. Eddy Noviana, S.Pd, M.PE dan WALHI Riau oleh Even Sembiring, Doa bersama dipimpin oleh Abdul Hadi dari WANAPALHI USTI, kemudian pertunjukan teater oleh Teater Senja Lima SMAN 5 Pekanbaru pun menampilkan lakon berjudul ‘Jampi.’ Lakon ini mengangkat tema perlawanan dan kesetiaan terhadap alam di tengah pengkhianatan kolektif terhadap nilai-nilai ekologis. Pertunjukan ini tampil kuat secara visual maupun emosional, dengan aktor-aktor muda—Dafin Awangga Putra, Muhammad Rasyid Rifa’i, dan Al-fatih ramaditya—yang memainkan peran mereka dengan kedalaman dan penghayatan.

Peluncuran dan Penayangan Perdana, serta Diskusi Isu dalam Dokumenter “Ada Noda di Bajumu!”: Membongkar Jejak Dosa Industri di Balik Fesyen

Memasuki acara inti, film dokumenter “Ada Noda di Bajumu!” membuka sesi pertama dengan menyoroti keterkaitan antara industri fesyen global dan krisis ekologis di Riau akibat ekspansi Hutan Tanaman Industri (HTI). Diproduksi oleh WALHI Riau, film ini menampilkan suara masyarakat terdampak serta menelusuri rantai pasok serat kayu dari wilayah konflik ke merek-merek pakaian dunia. Pemutaran film disambut antusias oleh peserta. Suasana ruang menjadi hening dan intens saat kesaksian masyarakat terdampak ditayangkan yang menandai kuatnya resonansi isu yang diangkat dengan peserta.

Dimoderatori oleh Eko Yunanda (Manajer Pengorganisasian dan Wilayah Kelola Rakyat WALHI Riau), diskusi usai pemutaran film “Ada Noda di Bajumu!” menghadirkan dua penanggap yakni, Riko Kurniawan (Direktur Paradigma) dan Woro Supartinah (Direktur LPESM). Keduanya menyoroti persoalan tata kelola industri hutan tanaman dan rantai pasok fesyen yang berdampak langsung pada konflik sosial dan krisis ekologis di Riau.

Riko menekankan pentingnya memastikan praktik industri berjalan secara legal dan legitimate, yakni tidak hanya sesuai aturan, tetapi juga diterima oleh masyarakat. “Jika tidak legitimate, maka konflik dan kerusakan lingkungan akan terus terjadi,” ujarnya. Ia juga mempertanyakan asal-usul bahan baku sandang yang kini turut disuplai oleh sektor HTI.

Sementara itu, Woro menyoroti keterkaitan antara pola konsumsi masyarakat dan kerusakan lingkungan. Menurutnya, industri fesyen kerap menyembunyikan praktik tidak etis di balik produk yang dikemas menarik. “Setiap kali kita membeli baju, kita harus sadar ada dampak yang mengikuti. Konsumsi sadar adalah langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar,” jelasnya.

Diskusi berlangsung aktif dan reflektif, menegaskan bahwa krisis lingkungan tidak terlepas dari keputusan konsumsi sehari-hari, serta pentingnya peran publik dalam mendorong perubahan sistemik.

Seminar Ekologi Politik Isu Transisi Energi di Indonesia: Mengkritisi dan Menyorot Ketimpangan dan Perampasan Ruang Hidup dalam Balutan Kedok Transisi Energi

Setelah rehat siang, peserta Tunjuk Ajar Lingkungan Hidup kembali memenuhi ruangan Aula Kampar, Gedung Integrated Classroom UNRI untuk mengikuti Seminar Ekologi Politik: Isu Transisi Energi di Indonesia, yang dimoderatori oleh Umi Ma’rufah (Manajer Pengembangan Program dan Kajian WALHI Riau). Seminar ini menghadirkan tiga narasumber: Even Sembiring (Direktur Eksekutif WALHI Riau), Prof. Yusmar Yusuf (Guru Besar Sosiologi Universitas Riau), dan Suraya Afiff (Dosen Antropologi Universitas Indonesia).

Even Sembiring membuka sesi dengan memaparkan bagaimana proyek transisi energi yang digadang-gadang sebagai solusi krisis iklim justru mengabaikan prinsip keadilan ekologis. Ia mencontohkan proyek Rempang Eco-City yang menggusur masyarakat Melayu demi pembangunan pabrik solar panel, hingga ekspansi tambang bauksit di Pulau Lingga yang sarat eksploitasi. “Transisi energi yang hanya mengganti komoditas tanpa membongkar struktur kekuasaan, justru memperparah ketimpangan dan konflik,” tegasnya.

Menyoroti dimensi kultural, Prof. Yusmar mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan juga berarti kerusakan budaya. Ia mengkritik dominasi kapitalisme yang mempreteli ruang hidup dan melemahkan kebudayaan lokal, terutama di Tanah Melayu. “Pantun, suluk, dan hukum adat lahir dari kedekatan dengan alam. Saat alam rusak, budaya pun kehilangan ruhnya,” jelasnya.

Sementara itu, Suraya Afiff mengupas bagaimana kekuatan ekonomi-politik menjadi aktor utama di balik krisis iklim. Ia mengkritik dominasi korporasi energi, kemunduran komitmen energi bersih, serta lemahnya dukungan riset terhadap dampak kesehatan batu bara. “Solusi palsu seperti kendaraan listrik justru memperluas tambang nikel dan menciptakan kolonisasi baru atas wilayah-wilayah adat,” tandasnya.

Sebagai penutup rangkaian acara, musisi Bikiboe tampil membawakan tiga lagu bertema lingkungan: Moh Basamo, Dongeng di Masa Depan, Sahabat Green, dan Pekanbaru Kota Rindu. Musiknya tak hanya menghibur, tetapi juga mengajak refleksi atas krisis ekologis. Sorak sorai dan nyanyian bersama peserta menciptakan suasana hangat dan penuh semangat, menutup hari dengan harmoni antara seni dan pesan lingkungan.

Narahubung: 082288245828

Next Post

Penertiban TNTN: Harus Menyasar Pebisnis Besar Terlebih Dahulu dan Perhatikan Aspek Pemulihan!

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel lain

Siaran Pers

Sumatera Darurat Ekologi: Bencana yang Dirancang Negara

by WALHI Riau
December 3, 2025
0

Siaran PersWahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau Pekanbaru, 3 Desember 2025 — Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh,...

Read more

Sumatera Darurat Ekologi: Bencana yang Dirancang Negara

Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan: Industri Ekstraktif Memperdalam Kerentanan dan Kekerasan terhadap Perempuan

Roots Up Aksi Respon COP 30: Bersama Pulihkan Riau!

Jatah Preman Memperpanjang Riwayat Korupsi Gubernur Riau, Berimbas Buruknya Tata Kelola Perizinan SDA

Hari Sumpah Pemuda, WALHI Riau Serukan Tuntutan Keadilan Iklim dan Antargenerasi 

Industri Ekstraktif: Merusak Lingkungan Hidup dan Merampas Hak Rakyat 

Load More

[]


Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) RIau “Mewujudkan Riau Adil dan Lestari Berlandaskan Nilai Keadilan Ekologis”

© WALHI Riau 2025

  • Home
  • Isu Kita
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah

© 2025 WALHI Riau