Pekanbaru, 19 Desember 2023 – Konflik agraria masih menghiasi pemberitaan media di Indonesia, insiden terakhir yang menyita perhatian publik adalah peristiwa di Pulau Rempang, Kepulauan Riau. Letusan di Pulau Rempang meninggalkan jejak pelanggaran HAM dalam peristiwa kekerasan. Rencana pembangunan pabrik kaca juga mengancam keberlanjutan sosial, budaya dan sumber pencaharian masyarakat sebagai nelayan dan petani.
Jejak konflik agraria di Pulau Rempang dan daerah lainnya di Indonesia diangkat dalam film dokumenter hasil kerja sama Lembaga Penelitian Belanda KITLV dan Watchdoc Documentary berjudul Tanah Moyangku. Film yang menceritakan perjalanan sejarah agraria yang merentang dari masa kolonial hingga saat ini. WALHI Riau bersama Klub Akhir Pekan, berkesempatan menaja nonton film dan diskusi yang dihadiri 35 orang dari berbagai kelompok orang muda Pekanbaru pada 15 Desember lalu. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan menjaga semangat juang orang muda untuk melindungi dan memperjuangkan hak atas tanah masyarakat Indonesia, khususnya Riau.
Film Tanah Moyangku dibuka dengan cerita awal konflik agraria di Indonesia pada masa penjajahan Belanda yang saat itu menerbitkan Undang-Undang Agraria (Agrarische Wet) tahun 1870, undang-undang ini lahir karena adanya desakan dari para pemodal besar swasta yang sejalan dengan politik monopoli atau sistem tanam paksa dari pemerintah kolonial dalam bidang pertanahan dengan jangka waktu 75 tahun. Bagian film ini juga menggambarkan pemerintahan Presiden Joko Widodo juga menerapkan hal yang sama dengan jangka waktu lebih lama hingga 190 tahun, melalui Peraturan Pemerintah Nomor 12 tahun 2023 tentang Pemberian Perizinan Berusaha, Kemudahan Berusaha, dan Fasilitas Penanaman Modal bagi Pelaku Usaha di Ibu Kota Nusantara.
Selain itu, Film ini mengambil sudut pandangan dari Ward Berenschot yang merupakan peneliti sejarah konflik agraria dan pertemuannya dengan sejarawan JJ Rizal, serta penelusuran Prof. Afrizal terhadap konflik agraria di berbagai lokasi konflik.
Usai pemutaran film, dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu Saratonggal Hanz sebagai moderator bersama tiga narasumber lainnya, Bambang Putra Ermansyah dari lembaga penelitian Fair.Sea, Ahlul Fadli, WALHI Riau dan Nofira Nurfadillah, Mahasiswa HI Universitas Riau.