Beranda Siaran Pers Hari Lahan Basah Sedunia, Walhi Riau Darurat Karhutla Dan Abrasi

Hari Lahan Basah Sedunia, Walhi Riau Darurat Karhutla Dan Abrasi

134
0

Pekanbaru, 2 Februari 2020. Jelang memasuki musim kemarau Panjang, Walhi Riau mengadakan peringatan Hari Lahan Basah Sedunia atau World Wetlands Day di Kawasan Car Free Day Jalan Sudirman dan RTH Kaca Mayang. Ini sebagai penanda kepada memerintah dan masyarakat agar besiap. Kegiatan tersebut bekerjasama dengan komunitas seni Selembayung dan Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) Kota Pekanbaru.

Kali ini tema yang diambil “Pulihkan Gambut Sekarang, Rakyat Selamat” tema ini di ambil karena melihat Provinsi Riau selalu di terpa bencana ekologis kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sudah terjadi sejak 20 tahun. Pada 2019 lalu, BNPB memprediksi kerugian yang ditimbulkan oleh karhutla 2019 mencapai Rp66,3 triliun. Taksiran kerugian itu diperoleh dengan membandingkan jumlah kerugian karhutla pada 2015. Luasan karhutla menurut catatan BNPB pada 2019 mencapai 350 ribu hektar. Sebagian besar kebakaran di Riau terjadi di atas lahan gambut dan hampir setengahnya berada di kawasan konsesi.

Kegiatan dimulai dengan penampilan teater lingkungan dari Sanggar Selembayung, empat orang berjalan melawati kerumunan pengunjung car free day sambil berkata “Rumah pak udin terseret ombak, itu gejala alami siapa yang peduli ayo kita main ke pantai” kalimat tersebut diulang sambil berjalan sehingga mengundang perhatian warga.

Setelah itu, masuk sesi diskusi publik bersama pembicara, Fandi Rahman Deputi Walhi Riau, Aditia Bagus Santoso Direktur LBH Pekanbaru dan Fedli Aziz dari Sanggar Selembayung. Fandi Rahman mengawali pembicaraa dengan menjelaskan potensi dari kerusakan lahan basah salah yaitu gambut dan abrasi pulau Bengkalis, Rupat dan Meranti, “Bibir pantai di pesisir Riau sudah be werkurang tiap tahunnya, ini akibat penebangan hutan mangrove dan pembukaan lahan berkebunan,” kata Fandi Rahman. Ia meminta agar isu abrasi tiga pulau mulai jadi perhatian pemerintah kabupaten dan masyarakat agar bisa membuat langkah kongkrit dalam menekan laju abrasi tersebut.

Direktur LBH Pekanbaru, Aditia Bagus Santoso jelaskan penegakan hukum terhadap korporasi yang merusak lahan gambut di Provinsi Riau, karena jauh dari harapan masyarakat, menurut laporan Polda Riau oknum masyarakat lebih dominan dari pada perusahaan perkebunan dan HTI yang menjadi tersangka, malah ada petani yang menjadi korban. “Pak Syafrudin hanya petani biasa yang membuka ladang untuk menanam sayuran dan buahan, LBH melihat unsur pidana dalam kasus ini sangat lemah dan seharunya ia bebas dari dakwaan,” ujar Adit.

Fedli Aziz melihat isu tersebut dari kacamata seni pertunjukan menurutnya ini langkah yang harus di respon oleh penggiat seni yang lain, karena isu lingkungan sangat kompleks dan harus sampai ke masyarakat dengan kemasan yang ringan. “Masyarakat harus tau bahwa lingkungannya sedang rusak, dan kita perlu memberikan pemahaman kepada mereka,” terang Fedli Aziz.

Momen Hari Lahan Basah Sedunia ini mengingatkan kita kembali akan arti penting lahan basah yang sering terlupakan. Untuk itu harus muncul gerakan kolektif semua unsur dalam memberikan edukasi terhadap masyarakat terutama generasi muda dan terlibat untuk merawat, mendijaga, dan mengelola lingkungan dengan baik secara terintegrasi supaya kita terhindar dari permasalahan krisis air dan bencana ekologis lainnya. (rls)

Artikel SebelumnyaPerusahaan Yang Di SP3-kan 2016, Masih Membakar Lahan Pada 2019
Artikel SelanjutnyaMasyarakat Riau Ajukan Sengketa Informasi terkait Izin Pertambangan di Riau

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini