• sekretariat@walhiriau.or.id
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah
  • id ID
    • en EN
    • id ID
No Result
View All Result
WALHI Riau
No Result
View All Result
Home Siaran Pers

Peringati Tiga Tahun Tragedi Rempang, Warga Panjatkan Doa dan Serukan Perjuangan Keadilan

WALHI Riau by WALHI Riau
September 16, 2026
in Siaran Pers, Utama
0
0
SHARES
22
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SIARAN PERS
Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB)

Related Posts

BPGMN: Dejavu Badan Gambut dan Mangrove, Mampukah Menyentuh Akar Persoalan?

Tambang PT BPP Semakin Masif, Masyarakat Batu Ampar dan Selensen Desak Pemulihan Lingkungan dan Tata Kelola Berpihak pada Rakyat

Hentikan Kriminalisasi Pejuang Hak Tanah Ulayat Rempang Atas Nama Pembangunan Ambisius Sekolah Terintegrasi Merah Putih Oleh Bp Batam

Hari Keadilan Ekologis: Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi

BATAM- Masyarakat Pulau Rempang yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Rempang Galang Bersatu (AMAR-GB) menggelar doa bersama di Kampung Pantai Melayu, Kelurahan Rempang Cate, Kecamatan Galang pada Senin (7/9/2026). Doa bersama yang dilakukan warga dari berbagai kampung di Pulau Rempang ini, dalam rangka memperingati tragedi penyerangan terhadap warga di Kampung Tanjung Kertang pada 7 September 2023.

Peringatan tiga tahun tragedi di Pulau Rempang ini, juga disandingkan dengan refleksi yang disampaikan perwakilan warga dari kampung-kampung yang hadir. Mulai dari warga Kampung Sungai Raya; Kampung Sungai Buluh; Kampung Sembulang Hulu; Kampung Sembulang; Kampung Pantai Melayu; Kampung Pasir Panjang; Kampung Pantai Tiga Putri; termasuk juga refleksi yang disampaikan oleh perwakilan anak muda.

Pukul 20.00 WIB, ratusan warga Pulau Rempang sudah memenuhi area parkir Kampung Pantai Melayu, yang menjadi lokasi acara. Mereka datang berduyun menggunakan kendaraan roda empat dan roda dua. Ketua Panitia doa bersama di peringatan tiga tahun tragedi Rempang, Miswadi, menuturkan acara doa bersama dan penyampaian refleksi dari perwakilan kampung, adalah cara masyarakat Pulau Rempang mengingat dan memperkuat perjuangan dalam menjaga kampung mereka tetap lestari. Bahwa tragedi memilukan yang dialami masyarakat Pulau Rempang di Tanjung Kertang pada 2023 lalu, harus menjadi pelajaran untuk memperkuat ikatan bersama menjaga warisan leluhur yang kelak akan diserahkan pada anak cucu mereka.

Miswadi juga mengingatkan warga bahwa perjuangan menjaga kampung akan terus mengalami banyak tantangan. Untuk itu, Miswadi menekankan pentingnya untuk menjaga persatuan kekompakan untuk menghadapi segala tantangan ke depan.

“Jangan sampai kita tergoda oleh iming-iming. Selama ini kita tetap bisa makan tanpa ada bantuan, orangtua kita dulu juga. Jadi jangan khawatir kalau tidak dapat bantuan.”

Warga Kampung Pantai Melayu, Gerisman Ahmad, dalam refleksinya, mengingatkan pentingnya posisi sebuah kampung bagi masyarakat Adat Melayu. Kampung adalah identitas yang di dalamnya tumbuh dan berkembang budaya. Adab, etika dan tunjuk ajar Melayu berkelindan bersama nasehat orang-orangtua di kampung mereka di Pulau Rempang. Gerisman menuturkan tidak ada gunanya memiliki prestasi tinggi jika kampung sebagai identitas harus hilang.

Pesan senada juga disampaikan oleh warga lain dalam refleksinya masing-masing. Menekankan pentingnya memperkuat persatuan dan menjadikan tragedi 7 September 2023 di Tanjung Kertang sebagai bagian dari sejarah yang mendewasakan. Utamanya pada perjuangan menjaga kampung dan ruang hidup.

Sopia, warga Kampung Sungai Raya, dalam refleksinya, menekankan pentingnya berlaku adil. Dan apa yang dijalani masyarakat Pulau Rempang adalah perjuangan untuk tegaknya keadilan itu sendiri. Ia mengutip pernyataan banyak tokoh publik yang bersuara tentang keadilan. Di antaranya pernyataan Abdurahman Wahid (Gus Dur) yang bunyinya: “Kemanusiaan harus ditempatkan di atas segala-galanya.”

Ia juga mengutip pernyataan Nelson Mandela yakni “Menjadi merdeka bukan sekadar melepaskan belenggu, tetapi hidup dengan cara yang menghormati dan memperluas kebebasan orang lain.”

Di penghujung acara, warga menggelar orasi. Menyuarakan apa yang mereka yakini sebagai hak dan memperjuangkannya. Berikut seruan Warga Pulau Rempang dalam orasi yang dibacakan: “Kami bersuara untuk memperjuangkan keadilan, keadilan yang kami yakini akan membuat kita diperlakukan setara sebagai sesama manusia. Kami berjuang untuk mempertahankan kampung dan ruang hidup kami. Kampung yang dititipkan oleh nenek moyang kami, untuk kami dan generasi masa depan kami nanti. Bagi kami di Pulau Rempang, kampung adalah identitas kami. Jika tidak ada kampung, maka tidak ada kami. Menjaga kampung, adalah perjuangan menjaga harga diri kami di Pulau Rempang.

Rempang bukan tanah kosong.
Hidup Rempang.
Hidup perempuan yang melawan.
“Allahuakbar.”

Narahubung:
082288245828 (Admin WALHI Riau)

Tags: Rempang bukan tanah kosongsaverempangTolakRempangEcocity
Next Post

Hari Keadilan Ekologis: Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel lain

Bencana Ekologis

BPGMN: Dejavu Badan Gambut dan Mangrove, Mampukah Menyentuh Akar Persoalan?

by WALHI Riau
October 8, 2026
0

Siaran PersWahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Riau Pekanbaru, 29 September 2026 – Presiden Prabowo Subianto berencana membentuk Badan Pengelola Gambut...

Read more

BPGMN: Dejavu Badan Gambut dan Mangrove, Mampukah Menyentuh Akar Persoalan?

Tambang PT BPP Semakin Masif, Masyarakat Batu Ampar dan Selensen Desak Pemulihan Lingkungan dan Tata Kelola Berpihak pada Rakyat

Hentikan Kriminalisasi Pejuang Hak Tanah Ulayat Rempang Atas Nama Pembangunan Ambisius Sekolah Terintegrasi Merah Putih Oleh Bp Batam

Hari Keadilan Ekologis: Dari Tapak untuk Keadilan Antargenerasi

Peringati Tiga Tahun Tragedi Rempang, Warga Panjatkan Doa dan Serukan Perjuangan Keadilan

Nelayan Desak Pencabutan PSN dan Izin Tambang Pasir Laut di Kabupaten Bintan

Load More

[]


Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) RIau “Mewujudkan Riau Adil dan Lestari Berlandaskan Nilai Keadilan Ekologis”

© WALHI Riau 2025

  • Home
  • Isu Kita
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
No Result
View All Result
  • Home
  • Isu Kita
    • Bencana Ekologis
    • Energi
    • Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
    • Perkotaan
    • Keadilan Iklim
    • Hutan dan Kebun
    • Kejahatan Lingkungan
  • Form Pengaduan Rakyat
  • Tentang Kami
    • Organisasi Anggota
    • Eksekutif Daerah
    • Dewan Daerah

© 2025 WALHI Riau