WALHI RIAU
Petisi Blusukan Asap untuk Presiden Joko Widodo

Petisi Blusukan Asap untuk Presiden Joko Widodo

Kebakaran HTI Sagu PT Nasional Sago Prima juga menghanguskan kebun sagu masyarakat. Foto: WALHI Riau

Diluncurkan Petisi melalui Change.Org / blusukan asap, meminta Jokowi Blusukan ke Lokasi Kebakaran Hutan Gambut di Propinsi Riau untuk melihat persoalan dan fakta di lapangan secara lebih nyata

Jakarta, 28 Oktober 2014 –Blusukan kelokasi kebakaran gambut dan hutan harus menjadi agenda utama dan prioritas bagi Presiden Joko Widodo (Jokowi) di awal pemerintahannya. Hal ini dikarenakan kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia sudah terjadi selama 17 tahun terus menerus dan tak kunjung terselesaikan secara tuntas kendati telah beberapa kali berganti presiden.

“Untuk:
Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia
Siti Nurbaya, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup RI
Ribuan orang turun ke jalan rayakan terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden baru. Jutaan warga mulai berani berharap kembali bahwa perubahan benar-benar datang. Saya, satu dari jutaan itu yang berharap banyak kepada Bapak.17 tahun kami warga Riau menderita akibat kebakaran hutan gambut. Rumah saya hampir saja terbakar jika tak ada selat memisahkan pulau kami dan hutan gambut yang terbakar. Dua bulan terakhir makin parah! Saya dan warga lain sampai bergantian jaga kebun sagu, satu-satunya sumber mata pencaharian kami. Hidup kami bagai telur diujung tanduk.
Pak Jokowi pernah melihat hutan gambut terbakar di mana-mana? Akibat asapnya saja, saya melihat 40.000 jiwa menderita pneumonia, asma, iritasi mata dan kulit. Janin dalam kandungan ibu terancam tumbuh tak optimal, bukannya melahirkan generasi revolusi mental malah bisa cacat mental. Kekeringan panjang dan penyakit sindrom pernapasan akut meredupkan harapan kami yang hidup dalam kepungan asap. Tiap tahun. Selama puluhan tahun.Pak, perusahaan pembakar hutan Riau bebas melenggang. Mereka pindah ke tempat bebas asap, meninggalkan rakyat yang menderita karena ulah mereka. Saya ada di situ, melihat. Dan presiden yang lalu hanya bisa prihatin.Pak Jokowi, sekitar 3,8 juta hektar hutan hilang tiap tahun. Akibat kebakaran hutan tahun ini, negara rugi 80 triliun rupiah, sepuluh kali lipat dari anggaran provinsi; Rp 8,84 triliun (BNPB, 2014). Dikalkulasi dengan provinsi lain yang terkena kebakaran maka totalnya Rp 50 Triliun.Hanya kepada orang seperti Bapak saya bisa berharap lagi. Dari cerita orang, Bapak begitu dekat dengan rakyat. Mau mendengar keluhan rakyat. Bekerja keras dan bertindak tegas.”
Kebun sagu masyarakat yang ikut terbakar. Foto: WALHI Riau
Penggalan surat yang disampaikan masyarakat kepada Presiden dan Menteri Kehutanan dan Lingkungan hidup untuk menceritakan derita yang selalu masyarakat alami ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan. Mereka masyarakat biasa yang tidak tahu apa apa menjadi korban atas kelalaian perusahaan. Surat ini disampaikan Abdul Manan melalui petisi yang dia harapkan dapat sampai, mari kita meluangkan waktu untuk mengisi harapan masyarakat yang sudah di ujung tanduk dengan mengisi petisi ini.
Silahkan mengisi petisi melalui link ini.

Walhi Riau

  • Membahas berita potiilk di media nasional cenderung jadi debat kusir. Tidak jelas manfaat dan ujungnya. Selalu saja ada sensasi baru yang membuat dunia potiilk di tanah air jadi begitu saturated. Jadi yah, saya sudah tidak baca berita potiilk lagi. Mendingan berita ekonomi, tekno, bisnis, info UKM, dsb. Jelas-jelas yang bisa membantu memajukan bisnis dan membuka lapangan kerja.

  • Membahas berita potiilk di media nasional cenderung jadi debat kusir. Tidak jelas manfaat dan ujungnya. Selalu saja ada sensasi baru yang membuat dunia potiilk di tanah air jadi begitu saturated. Jadi yah, saya sudah tidak baca berita potiilk lagi. Mendingan berita ekonomi, tekno, bisnis, info UKM, dsb. Jelas-jelas yang bisa membantu memajukan bisnis dan membuka lapangan kerja.

Ikuti Kami

Dukung kami melalui media sosial untuk kebaikan lingkungan hidup.